PKH jadi senjata Kemensos atasi stunting pada anak – poker

poker – Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi andalan Kementerian Sosial untuk mengatasi stunting pada anak.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.

dewapoker – “Stunting akan berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit dan penurunan produktivitas. Karenanya, perlu intervensi berbagai pihak.

Butuh pula kerja sama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah,” kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat dikutip dari Antara.

Dia mengatakan, Kemensos siap berkolaborasi dengan kementerian/lembaga terkait guna mengatasi stunting penduduk miskin melalui PKH menjadi senjata Kemensos.

Dia menjelaskan stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek pada usianya.

domino qq – Kekurangan gizi terjadi sejak bayi di dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, atau dalam 1.000 hari pertama kehidupan.

Kementerian Sosial, kata Harry, memasukkan ibu hamil dan anak bawah lima tahun (Balita) sebagai salah satu komponen bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH).

Sasaran tersebut agar ibu hamil dan balita bisa mendapatkan asupan gizi mencukupi.

“Nominal intervensi yang diberikan pemerintah sejumlah Rp 1.890.000 yang diberikan dalam empat tahap selama satu tahun.

Bantuan disalurkan secara nontunai,” katanya.

Bantuan tersebut, lanjut Harry, tidak diberikan secara cuma-cuma melainkan dengan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi.

Harry menerangkan, ibu-ibu hamil peserta PKH harus memenuhi kewajiban memeriksakan kehamilan minimal empat kali selama masa kehamilan.

“Pemeriksaan ini adalah upaya yang dilakukan pemerintah menurunkan angka kematian ibu dan bayi, termasuk di dalamnya bayi stunting.

Tujuannya agar ibu hamil dan bayi yang lahir nantinya sehat,” tambah dia.

Sedangkan terhadap balita, tambah Harry, bertujuan agar si balita memperoleh imunisasi dan nutrisi yang sehat sebagai bekal tumbuh kembang anak. Berdasarkan Riskesdas Kemenkes pada 2013, sekitar 37 persen atau kurang lebih sembilan juta anak balita di Indonesia mengalami masalah stunting.

Baseline data prevalensi stunting pada tahun 2014 adalah 32,9 persen dengan target 2019 sebesar 28,0 persen. Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *